Berbeda-beda tapi Tetap Kerupuk Jua



Almarhum kakek saya adalah mantan perokok berat. Nggak tahu pasti apa hubungannya rokok dengan kerupuk. Tapi, pada diri kakek sayalah rokok dan kerupuk bisa bersilaturahmi.

Usai makan kerupuk, kakek saya pasti ngerokok. Karena kata orang "makan tanpa udud kurang nikmat". Dan "makan tanpa kerupuk seperti naik motor tanpa roda". Begitulah kakek saya, tidak bisa lepas dari kerupuk.

Setiap kali makan selalu meminta kerupuk. Tak peduli apa pun itu lauknya. Nasi goreng pakai kerupuk, lodeh pakai kerupuk, sambal balado pakai kerupuk, pindang serani pakai kerupuk, pindang tetel pakai kerupuk, soto pakai kerupuk, sampai ayam goreng juga pakai kerupuk.

Saya atau anggota keluarga lain acap kali dipaksa buat membelikan kerupuk, kalau-kalau di rumah stok kerupuk sudah habis. Hal itu memang tidak merepotkan, apalagi tiap pagi pedagang kerupuk pasti sudah teriak-teriak. Namun lain perkara ketika kerupuk yang dibeli pagi sudah habis saja. Nggak sampai jadwal makan siang.

Ha itu yang repot. Mau nggak mau harus beli di warung terdekat, dan tentu saja harganya jauh lebih mahal dari pedagang di pagi hari itu. Yang tambah repot lagi kalau disuruh beli rokok sekalian.

Memang kadang mendapat semacam bayaran sih, tapi ya repot juga kalau datang ke warung tapi penjaganya malah asyik nonton India di televisi. Gajinya cuma seribu, tapi harus nunggu bermenit-menit, mendengar cekcok rumah tangga di televisi lagi.

Kakek saya bisa dibilang pencinta kerupuk. Makan apa pun harus pakai kerupuk. Tapi untungnya, kebiasaan semacam ini tidak sampai ke saya. Mentok sampai ibu saya, ya mungkin karena ikatan darahnya nggak terlalu jauh kali.

Sementara saya ini kan masih punya ikatan dari bapak saya. Bapak memang tidak begitu suka makan kerupuk. Jadi, mungkin karena itulah saya nggak terlalu ndakik sama kerupuk. Namun, bukan berarti saya nggak butuh kerupuk ketika makan.

Tetap butuh. Hanya saja kadar kebutuhannya berbeda dengan kakek saya. Saya cenderung pilih-pilih. Nggak semua lauk bisa disandingkan dengan kerupuk. Singkatnya, ada yang harus pakai kerupuk ada yang tidak.

Saya merasa kurang lengkap ketika makan oreg-oreg tanpa kehadiran kerupuk. Makan sambal goreng kentang tanpa campur tangan kerupuk. Makan ayam kecap tanpa ditemani kerupuk.

Lidah saya seperti sudah ter-setting. Pokoknya ketika makan ini harus pakai kerupuk, ketika makan yang itu tidak. Dan repotnya saya, pendikotomian ini bukan soal lauk yang bakal disandingkan dengan kerupuknya saja, tapi jenis kerupuknya itu sendiri.

Kalau kakek saya memang nggak peduli jenis kerupuk. Pokoknya, kalau ada kerupuk selesai urusan. Karena bagi kakek saya, berbeda-beda tapi tetap kerupuk jua. Sedangkan saya ini kok ya, nggak bisa kayak gitu.

Kerupuk yang bermacam jenisnya itu pun masih saya pilih-pilih lagi. Kalau makan nasi goreng, saya selalu berpikir akan lebih enak dengan kerupuk bawang. Lalu ketika makan di warteg atau warung depan kampus, kerupuk gendar selalu menjadi pilihan.

Makan opor ayam dengan sambel goreng kentang, beda lagi kerupuknya. Yaitu saya paling suka pakai kerupuk udang. Namun itu hanya idealisme saya saja. Toh pada kenyataannya, saya mesti berdamai bahwa yang tersedia di rumah cuma kerupuk gendar.

Perkara kerupuk saja saya masih pilih-pilih, apalagi... ah sudahlah. Saya pikir budaya "pilih-pilih" ini masih wajar-wajar saja, toh nggak ada orang yang dirugikan juga.

Bukankah setiap orang berhak memilih hidupnya, ya tho? "Freedom" kata orang barat, dan "HAM" kata aktivis lokalan.

Namun, setelah dipikir-pikir budaya "pilih-pilih" ini sebenarnya nggak baik-baik amat, ya anggap ada jeleknya lah. Umpamanya, cuma umpama sih, saya jadi petugas pemerintahan, dan saya masih ngotot dengan budaya "pilih-pilih".

Saya anggap warga yang minta dilayani itu seperti kerupuk. Lalu, saya memilih-milih warganya. Memilih sesuka saya, mana yang saya ingin layani.

Sampai-sampai otak saya sudah kadung ter-setting: warga yang itu harus saya layani, sementara yang satunya tidak perlu. Wah, itu bahaya!

Selain warga nggak sama dengan kerupuk, maka sikap yang mesti saya ambil adalah seperti kakek saya. Apa pun jenis kerupuknya terima saja. Sebab kakek saya yang butuh kerupuk, bukan kerupuk yang butuh kakek saya.

Posting Komentar

0 Komentar