Malang di Kota Malang


Sampai di Kota Malang, saya sedikit limbung. Pasti karena saya tidak cukup tidur ketika berada di dalam kereta. Sementara, teman perempuan saya tampak bragas waras.

Tubuhnya sangat fit. Wajahnya sedikit bercahaya. Mungkin karena sebelum turun dari kereta, ia sudah mengambil air wudhu. Seingat saya, ketika sudah masuk waktu Subuh, teman saya itu Sholat Subuh di kereta.

Hal yang tentu saja tidak saya tiru. Saya memilih tidak sholat di dalam kereta. Pikir saya, tidak masalah Sholat Subuh ketika sampai stasiun. Saat matahari sudah tersenyum menyapa orang-orang yang saling senggol di jalan raya.

Tolong jangan dikaitkan dulu sama agama, atau urusan fiqh.

Usai membayar sholat saya yang ketinggalan. Entah dianggap lunas atau tidak. Saya bersama teman saya itu berjalan keluar Stasiun Malang.

Sial. Ketika itu hape saya sulit sekali untuk menyala. Ini adalah petaka. Hape yang nggak nyala, bisa membuat traveler (ceile!) amatir sedikit kebingungan.

Namun, untungnya ada teman saya. Hape dia juga masih sehat seperti pemiliknya.

Hal yang bikin saya terkejut ketika itu adalah, si perempuan yang wajahnya bahagia ketika sampai di Malang itu, mengajak saya ke suatu tempat.

Mohon maaf, saya lupa tempatnya. Yang saya ingat, ia memesankan saya Gojek. Waktu itu, Gojek adalah aplikasi yang tidak saya akrabi.

Kami berangkat naik Gojek yang berbeda. Bukan tidak mau naik Gocar bareng berduaan. Menikmati lalu lintas sembari saling bercerita di dalam mobil, diselingi lagu "Seberapa Pantas" Sheila On 7.

Tidak, tidak begitu. Tapi, kami memilih Gojek yang berbeda daripada naik Gocar karena cuma pengin ngirit saja. Singkat cerita, kami sampai di suatu tempat.

Dan bajingan! Sampai di sana, saya hanya seperti orang gila kebingungan. Tidak tahu tempat apa yang kami tuju. Akhirnya, saya dan teman saya itu memutuskan mencari tempat makan.

Urusan makan pun, saya sudah menduga. Paling-paling teman saya itu akan mengajak saya makan di pinggir jalan. Ya, nggak masalah sih. Kami pun berhenti di pedagang bakso dan mi ayam.

Sungguh. Betapa gabutnya kami, jauh-jauh ke Malang cuma makan mi ayam. Eh, tapi ada alasan kenapa kami memilih makanan yang sejatinya bisa saya dapatkan di dekat kampus IAIN Pekalongan.

Pertama, cuma itu yang ada. Kedua, saya sudah capek. Usai makan, saya melihat gelagat teman saya itu tak mau berlama-lama menyusuri Kota Malang bersama saya.

Ya, maklum, pria berwajah ndeso ini cukup aneh saja jalan bareng perempuan yang berwajah oriental. Meski begitu, saya perlu memuji kebaikan teman saya tersebut.

Karena, ketika hape saya mati, ia berusaha mencarikan kenalannya untuk tempat saya istirahat. Paling tidak, kalaupun harus berpisah dengannya, saya punya tujuan. Tidak luntang-lantung seperti seorang suami yang gagal mendapat sepeser pun uang.

Untung saja, ada temannya teman saya itu yang mau menampung saya. Sementara, teman saya itu pergi sendiri. Ya, nggak masalah. Mungkin saja ia ingin menjelajah Kota Malang tanpa kehadiran saya di sampingnya.

Saya pergi ke temannya teman saya yang laki-laki. Sementara, gadis itu pergi ke temannya yang lain. Saya yakin, setelah itu ia bertamasya keliling Malang. Sedangkan saya, waktu itu hanya berpikir untuk bisa tidur.

Kami pun berpisah. Tapi jujur, perpisahan itu membuat saya sedih bukan kepalang. Bagaimanapun diakui atau tidak, saya masih betah jalan sama teman yang, lumayan cantik itu.

Meski bukan itu sesungguhnya yang bikin saya sedih. Melainkan karena perpisahan itu, alih-alih menyelamatkan saya, justru membuat saya malang di Kota Malang.

Posting Komentar

0 Komentar