![]() |
| Yoona di drama korea "Big Mouth"/MBC |
Kalau dibandingkan mereka yang sudah senior di dunia per-drakor-an dan dunia showbiz Korea, saya belum ada apa-apanya.
Jumlah drama Korea yang saya tonton pun masih terbilang sedikit. Banyak judul-judul menarik yang hanya masuk wishlist tapi tak kunjung saya tonton.
Kalau harus diadu, tentu saya kalah. Khasanah di skena per-drakor-an saya masih seujung kuku dibanding mereka yang sudah sampai fanatik buta. Soal fanatik ini saya sebisa mungkin mencoba membatasi diri.
Sebesar apa pun saya mencintai Manchester United, saya tidak akan gelap mata, sampai-sampai mengakui kalau jumlah trofi UCL Emyu lebih banyak dari AC Milan. Begitu pula di dunia ke-Korea-an.
Sebesar apapun saya ngefans sama Lim Yoona, saya tidak akan menghampirinya, mencium keningnya, menggandeng tangannya, lalu kemudian mengajaknya ke pelaminan teman saya.
Omong-omong soal drakor, saya mengenal dunia ini dengan cara yang tidak lazim. Cara yang mungkin boleh dibilang sangat tidak K-Pop sekali.
Sejauh yang saya tahu, lazimnya orang menonton drakor karena idol mereka, selain bernyanyi dan berjoget tanpa lantunan seruling bambu, juga bermain di series atau drama Korea.
Misalnya, orang ngefans sama Bae Suzy sejak menjadi anggota AESPA, eh, Miss-A, dan tiba-tiba cewek yang punya senyum flirting paling manis sedunia ini main drakor, sudah pasti fansnya akan menonton drakor tersebut.
Kalau saya tidak begitu. Saya tidak pernah dengar apalagi ngefans SNSD atau Girls' Generation, tapi saya bisa mendaulat diri menjadi fans Yoona, salah satu membernya. Itu justru karena saya menonton drakor yang di dalamnya, Yoona memerankan salah satu karakternya.
Perkenalan saya pada drakor berawal dari Twitter. Bukan, bukan dari manfess yang itu. Melainkan melalui seseorang yang sama sekali tidak berkaitan dengan dunia showbiz.
Itu terjadi di pertengahan fase mengerjakan skripsi, atau mungkin malah sudah sampai di tahap akhir, saya agak lupa. Pokoknya seingat saya, kejadiannya sekitar tahun 2021.
Ketika itu kegandrungan saya pada dunia media, komunikasi, dan jurnalistik sampai ke tahap sakau. Ada beberapa pakar jurnalistik yang saya baca tulisan-tulisannya dan menyatakan taqlid buta pada mereka.
Salah satunya Wisnu Prasetya Utomo. Dosen UGM yang sekarang sedang kuliah lagi di luar negeri. Kebetulan saya mem-follow dia di Twitter.
Nah, waktu itu si dosen ngetwit. Twitnya begini:
Mulai nonton mbak Yoona di Hush, drama tentang jurnalis dan media. Episode pertama menjanjikan.. pic.twitter.com/KEd8lf7RzR
— Wisnu Prasetya (@wisnu_prasetya) January 17, 2021
Melalui twit tersebut, ia memberikan salah satu rekomendasi drakor yang temanya jurnalistik.
Judul drakornya HUSH. Ya, H-U-S-H. Salah satu pemerannya Yoona. Yoona SNSD yang tadi saya bilang.
Kala itu, walaupun belum tau dunia drakor, kalau ingatan saya tidak berkhianat, sepertinya beberapa kali saya pernah mendengar nama "Yoona".
Twit itu dipenuhi kalimat-kalimat akademis yang agitatif sehingga membuat saya terseret untuk membaca twitnya sampai tuntas. Lebih-lebih si dosen ini juga menyelipkan screenshoot dari drakor tersebut, termasuk gambar Yoona.
Dannnnnnn......
Saya yang terbelalak dan imannya lemah ketika melihat foto artis cantik, refleks berucap: AYUNEEEEEE.....
| Yoona di drakor HUSH/iQIYI |
Akhirnya saya pun mencoba menonton drakor tersebut. Dan sumpah demi celana dalam Tuan Crab, Yoona beneran cakep, dan aktingnya jos gandos.
Kebetulan, pas banget di situ Yoona tidak berambut panjang, melainkan berambut bondol. Coba bayangkan, kalau Zee JKT48 yang rambutnya bondol saja bisa mengalihkan perhatian Dilan dari Milea, apalagi saya ketika melihat Yoona?
Dari sanalah saya akhirnya menjadi salah satu penggemar Yoona. Dan dari sana pulalah saya mulai menggemari drakor.
Awalnya cuma menonton drakor yang hampir semuanya diperankan Yoona, tapi lama-lama tidak hanya yang diperankan Yoona, melainkan juga artis lain.
Pengalaman tersebut menyadarkan saya. Bahwa ternyata saya adalah sosok yang sangat akademis. Lha gimana? Buat mengenal drakor pun, alih-alih mengawalinya dari menjadi seorang kpopers, saya menjadi penggemarnya justru melalui dosen jurnalistik.


0 Komentar