![]() |
| Sumber foto: JPNN |
Karena dua film lain sudah saya tonton sendiri, saya putuskan mengajak seorang teman menonton Perang Kota. Nggak jadi hattrick nonton film sendiri, deh.
Ekspektasi saya tak besar untuk film Perang Kota. Saya tidak menonton trailernya. Dari judul juga tidak menarik. Judulnya, ehmm…. apa ya? Flat? Sebetulnya tidak menonton pun tidak masalah.
Namun karena teman saya mau diajak nonton, ya gas aja.
Film ini berlatar pasca kemerdekaan. Tepatnya setahun setelah kemerdekaan. Belanda datang lagi untuk menguasai kembali Indonesia. Tentu kamu tahu dong Belanda balik lagi sama siapa? Yak, NICA!
Sesuai prediksi, adegan dimulai dengan peperangan. Sebuah gedung dibakar. Orang-orang diculik. Tak lama, adegan lalu beralih ke karakter yang, akan menjadi lead sepanjang cerita. Namanya Guru Isa, diperankan aktor gagah yang kata teman saya, mirip Yesus. Yap, tiada lain dia adalah Chicco Jerikho.
Dari kemunculan pertama, aura lakinya Putri Marino ini menyita perhatian saya. Kesan yang dibangun: Guru Isa seperti seorang pembunuh berdarah dingin, minim ekspresi dan terkesan seperti orang yang utangnya banyak.
Kenapa guru? Karena dia memang seorang guru. Tepatnya guru biola bagi Hazil, karakter yang diperankan Jerome Kurnia.
Kamera lalu beralih lagi. Kali ini menyorot seorang wanita yang tergopoh-gopoh menghindari mesiu. Dia berlari sambil menyeret-nyeret seorang anak yang kelak, penonton tahu bahwa anak itu bernama Salim, dan perempuan yang terbirit-birit adalah Fathimah.
Fathimah diperankan Ariel Tatum. Wanita yang sangat gorgeous, kata teman saya dengan aksen British yang memukau. Kelak, dalam film kita akan tahu bahwa Fathimah, Guru Isa, Salim, dan Hazil punya hubungan dan keterkaitan yang begitu kompleks, miris, dan ah, kamu tontonlah sendiri saja!
Selesai menonton, saya mendengar keluhan hampir satu studio.
“Hah?!”
“Endingnya gini doang?”
“Nggak jelas banget!”
Jika ingatan tidak membelot, seumur-umur saya masuk bioskop, itu adalah kali pertama saya mendengar keluhan penonton langsung muncrat setelah selesai menonton film yang, menurut mereka, mengecewakan. Film itu mungkin memang ngecewain.
Barangkali membaca judulnya dan melihat posternya, orang akan mengira film ini penuh adegan menegangkan. Kita akan dibawa ke suasana di tengah peperangan kota, di mana ledakan demi ledakan muncul di sana-sini, dan suara pistol dikokang menghiasi hampir dua jam durasi.
Tapi nyatanya tidak begitu. Adegan perangnya sungguh seminim gaji guru honorer. Justru yang paling menonjol bukan ledakan mesiu, tapi ledakan emosi setiap tokoh yang disampaikan dengan cara simbolik. Dan ini yang bikin saya nyeletuk, “Anjir! Keren banget!”
Saya belum pernah menonton film, wabil khusus film Indonesia yang emosi para karakternya disampaikan dengan cara simbolik. Penonton diberi ruang untuk menafsirkan sendiri emosi dari setiap karakternya. Tanpa perlu dijabarkan, penonton bisa tahu bahwa Guru Isa cemburu dan marah, bahwa suasana canggung, bahwa Guru Isa, ternyata tak bisa ereksi!
Selesai nonton saya juga baru tahu, film ini diadaptasi dari novel “Jalan Tak Ada Ujung” karya Mochtar Lubis, pendiri surat kabar Indonesia Raya yang pernah dibredel.
Selesai nonton saya juga akhirnya tahu, film ini disutradarai dan ditulis skenarionya oleh Mouly Surya, peraih penghargaan Penulis Skenario dan Sutradara Terbaik di Piala Citra 2018 lewat film Marlina, Si Pembunuh dalam Empat Babak.
Dalam hati, pantas keren betul. Tapi saya tidak yakin film ini disukai banyak orang. Hanya saja, jika kamu diburu rasa penasaran dan ingin merasakan pengalaman baru menonton film sejarah, tontonlah film ini.
Andaipun filmnya menurutmu berakhir mengecewakan, sekurang-kurangnya, dengan menonton film ini kamu bisa melihat Ariel Tatum yang gorgeous, atau Chicco Jerikho yang gagah perkasa.


0 Komentar