Pacaran

Sumber foto: Talha Uguz/Pexels


27 tahun hidup, saya tak pernah pacaran. Kira-kira bagaimana rasanya? Sedih? Frustrasi? Ya begitulah. Hari-hari dilalui dengan membaca buku, menonton film, belajar, dan menulis. Tapi aku beruntung. Di usia yang mendekati 28, aku pun berpacaran. Seorang perempuan baik menerimaku.

Sebulan.


Mungkin karena saya tidak tahu caranya berpacaran, kami pun putus.


Ah, tidak. Itu bercanda. Ada sesuatu yang rumit dijelaskan.


Hanya saja begini, hubungan kami sebenarnya masih bisa diperbaiki, tapi kami sepertinya enggan untuk memperbaiki. Paling tidak sampai saya menulis ini. Kami sudah sangat jarang ketemu. Chatting-an pun nyaris tidak.


Setelah dari perempuan baik ini, saya punya pacar lagi. Saya rasa perempuan ini sosok pasangan ideal. Tentu versi saya.


Saya pun melayaninya dengan sangat baik, paling tidak menurut ukuran saya. Cara saya men-treat dia sedikit lebih baik dari yang sebelumnya. Maklum ini sudah pengalaman kedua.


Pacar saya ini selalu tersenyum ketika kami bertemu. Ujung bibirnya manis merekah seperti kelopak mawar dikecup embun subuh. Entah kenapa, melihat senyum gadis ini, masalah seakan lenyap dimakan serigala arab.


Tiap pekan kami bertemu. Tiap minggu kami mengobrol, dari soal keluarga hingga gua yang banyak hantunya.


Saya ingat betul perkataannya di awal.


“Aku sibuk,” katanya, “tapi kalau kamu butuh, aku ada.”


Indah sekali bukan perkataan itu? Namun, ada dua kalimat yang lebih indah dari itu. Kurang lebih dua kalimat itu ini:


"Terima kasih ya, sayang. Kamu sudah nguatin aku."


Hati laki-laki mana yang tidak meleleh mendengar kalimat itu dari pacarnya sendiri?


Tak sampai sebulan, kami pun putus.


Alasannya kali ini cukup kompleks. Tapi satu yang kurasa paling berpengaruh: keluarganya tak setuju. Alasan yang bisa kuterima. Setidaknya aku tak perlu mengajukan banding ke Dinas Cinta dan Hubungan Antar-Manusia, karena melanggar pasal pemutusan hubungan secara sepihak.


Dua kali diputusin dalam waktu yang, lebih singkat dari masa percobaan karyawan baru, aku meredefinisi lagi soal cinta dan menjalin hubungan. Sempat terpikir, apakah saya memang tidak pantas buat salah satu dari dua perempuan tadi?


Namun, saya berkesimpulan: mungkin bukan takdirnya saja. Kesimpulan yang sangat stoik. Meski begitu, paling tidak saya belajar banyak dari dua pengalaman pahit ini.


Pertama, sangat sulit menjalani hubungan tanpa cinta. Aku melakukan itu saat pacaran untuk pertama kalinya. Tidak ada rasa, atau…. mungkin kami sama-sama punya rasa, tapi amat secuil.


Kami ingin menumbuhkannya. Namun, belum juga tumbuh, taman alam jiwa penuh bunga itu sudah dihantam buldozer yang mau menjadikan tanah kami, pertambangan timah.


Kedua, sebelum memulai hubungan, seseorang perlu selesai pada dirinya sendiri. Aku tahu, setiap orang sulit buat sampai ke “selesai pada diri sendiri”. Sebab memahami diri sendiri adalah pekerjaan seumur hidup. Makanya aku menulisnya “perlu” bukan “wajib”.


Lantas gimana? Paling tidak punya niat mengarah ke sana. Berdamai, mungkin kata yang lebih tepat. Jangan meminta pasangan atau calon pasangan menyelesaikan dirimu atau mendamaikan dirimu. Karena itu tugasmu, bukan tugas orang lain.


Ketiga, dari segala kriteria, ternyata ada satu kriteria yang, rasanya, paling aku butuhkan: pasangan yang bisa menjadi rumah.


Dengan pasangan yang bisa menjadi rumah, aku boleh boleh bilang apa saja tanpa takut dihakimi. Aku boleh baca apa saja, tanpa takut dianggap makar. Aku boleh mengkritik tokoh siapa saja, termasuk Ferry Irwandi, tanpa dibilang pengkhianat revolusi.


Tentu bukan berarti aku akan bilang seenaknya ke pasanganku. Aku juga takkan melakukan tindakan seenak perut ke dia.


Pertama-tama aku akan selalu bilang ke dia, “Tolong kalau kata-kataku atau tingkah lakuku menyakitimu, bilang.” Bahkan aku tak segan untuk bilang ke dia, “Kalau aku menyakitimu, kamu boleh putusin aku.”


Pacarku yang pertama sepertinya melakukan itu. Tentu saya tak mau mendebatnya. Karena keputusannya sudah sesuai.


Pun pacar saya yang kedua. Ketika mau putus, dia bilang setiap kali memikirkan saya, dia semakin takut dan overthinking, dan itu, katanya, membuat dirinya tak bahagia. Tentu aku wajib mundur dalam situasi ini.


Yang pertama, pun yang kedua, bukan berarti saya tidak cinta. Hanya saja Fahruddin Faiz sudah mengingatkan:


“Cinta itu menjagaku dari menyakitimu, termasuk dari diriku sendiri. Jika keberadaanku membuatmu sakit, aku akan minggir. Karena aku hanya ingin engkau bahagia.”


Mungkin perasaan kecewa dan marah dan overthinking pasti ada setiap kali ditolak atau diputusin. Tapi setiap kali teringat kalimat tadi, rasanya ketakutan untuk ditolak dan diputusin bisa aku atasi.


Bagi saya, yang penting adalah jatuh cinta pada perempuan itu. Dan itu sudah cukup. Sebab Nietzche toh juga berpesan:


Permintaan agar dicintai adalah jenis arogansi yang paling besar.


Kendatipun demikian, saya tidak tahu, setelah berulang kali ditolak dan diabaikan, apakah Tuhan, sang pemilik hati, mengizinkan saya jatuh cinta lagi.

Posting Komentar

0 Komentar